Dit Intelkam Polda Papua Gelar FGD Bersama Intelektual Tua Adat dan Akademisi Provinsi Papua

12

Jayapura – Direktorat Intelkam Polda Papua menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Intelektual Tua Adat dan Akademisi Tua Adat Provinsi Papua bertempat di Hotel Grand Talent Kota Jayapura, Selasa (24/04).

Kegiatan yang dipimpin oleh PS. Kasubdit I Dit Intelkam Polda Papua Kompol Sujono bertemakan “Manfaat dan Kerugian Otsus dan DOB bagi masyarakat asli Papua”.

Turut hadir dalam acara tersebut Kasubdit V Direktorat Intelkam Polda Papua Kompol Marthen Koagouw, SH., Tokoh Muslim Papua Muh. Thaha Alhamid, Dosen Universitas Sains dan Teknologi Jayapura Isak Ha Rumambar, ST., MM, Dosen Universitas Cendrawasih Prof. Dr. Melkias Hetharia, S.H., M.Hum dan para Forkopimda terkait.

Pada kesempatannya Kompol Sujono mengatakan pertama saya sampaikan kenapa kami dari Polda Papua perlu mengadakan acara ini dengan materi terkait DOB dan Otsus dimana selama ini kita melihat setelah adanya pengesahan DPR RI mengesahkan 3 DOB di provinsi Papua, adanya yang menolak dan menerima kebijakan tersebut.

“Kami dari kepolisian menyampaikan bahwa, pro dan kontra dalam kebijakan itu hal yang biasa, namun kita dapat menyikapi dan menyampaikan bagaimana sudut pandang kita semua terhadap adanya kebijakan ini. Dengan adanya FGD ini, kami berharap nantinya kita mendapatkan solusi, kita disini bisa berbeda pendapat dan masing-masing memiliki alasan, saya berharap pada saat pelaksanaan diskusi ini boleh kita panas, tetapi dengan pikiran dan hati yang dingin, artinya kita dapat memberikan pendapat seluas luasnya,” ucapnya.

Pada kesempatannya ketua BEM Umel Mandiri Papua R. Sinaga menyampaikan mengenai DOB pasti ada manfaat dan kerugiannya, menurut saya manfaat pertama adalah terkait fungsi pengawasan yang dapat lebih terjangkau, artinya pemerintah akan mudah lebih menjangkau daerah-daerah di tanah Papua ini. Yang kedua adalah sebagai pembuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat guna untuk mempekerjakan dan memanfaatkan Sumber Daya Manusia yang ada.

“Untuk kerugiannya yang pertama yaitu degradasi dan eksploitasi SDA di Papua akan berlebihan dan merugikan masyarakat Papua, karena masyarakat Papua hidup dari alam, kerugian kedua adalah adanya penghancuran hutan lindung, dimana saat ini kita menghadapi pemanasan global dan yang ketiga adalah masalah KKN yang apabila timbul di pemerintahan Papua, akan menjadi dampak buruk bagi kesejahteraan terhadap kepercayaan masyarakat Papua terhadap pemerintah,” ujarnya.

Tokoh Muslim Papua Muh. Thaha Alhamid juga menyampaikan untuk saya pribadi, Otsus bukanlah sesuatu yang luar biasa, karena kami tau semuanya, dimana Otsus hadir pada era kami, Otsus itu spesial otonomi dimana sebuah daerah diberikan spesial otonomi jikalau di daerah tersebut terdapat pergolakan politik dan ini hasil dari negosiasi dan perjuangan panjang.

“Sekarang ada Otsus jilid II dan jujur saja saya belum terlalu memahami ini, namun saya pikir ini tidak berbeda jauh tujuannya yang memang ingin membuat Papua sejahtera agar tidak ada lagi yang meneriakkan Papua merdeka. Sekarang ada juga yang namanya DOB, dulu tahun 2000 di lapas Abepura, Theis berkata gubernur dan MRP agar membuat pemekaran, dan utamakan wilayah Lapago dan sekarang pemekaran sudah dimulai dari selatan atau Merauke,” tutur Tokoh Muslim.

Lanjutnya hal ini memang sudah didorong oleh orang Merauke dari lama dan apabila saudara sekalian pergi ke Merauke, maka kalian akan tercengang, karena daerah yang sangat luas hanya terdiri dari 1 kabupaten saja. Apabila kita bisa membangun daerah ini, maka kita tidak perlu membeli beras dari tanah Jawa, namun kita bisa menjual beras kita keluar.

Pada kesempatan yang sama Dosen Universitas Cendrawasih Prof. Dr. Melkias Hetharia, S.H., M.Hum menyampaikan kita harus mampu dan Papua harus bisa, Otsus ini jangan lagi lama-lama ada di Papua, itulah sebabnya ada UU keuangan dalam Otsus sampai tahun 2020, namun ternyata di Papua saat ini PAD masih rendah sehingga Otsus diperpanjang dan direvisi.

“Jadi apakah Otsus gagal atau tidak jangan kita menjadi buta, karena ada dampak positif dari Otsus, lalu dampak dari DOB, apakah ada atau tidak. Soal DOB saya ingin simpulkan, bahwa sebenarnya DOB mendatangkan kebaikan, sisi positifnya lebih banyak, dan mungkin saya ingin mengatakan bahwa sisi negatifnya tidak ada, apakah kita takut penjarahan di hutan yang membuat hutan jadi rusak, padahal sudah ada banyak aturan pada negara ini dan perusak itu merupakan orang yang nakal dari antara pengusaha dan penguasa,” ungkapnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.